Senin, 22 April 2019

Workshop Dakwah Kontemporer dan Enterpreneurship KPI UIN Sunan Ampel Surabaya 2019




            Sabtu, 12 April 2019 telah diadakan kuliah lapangan pada mata kuliah Ilmu Dakwah dengan mengadakan workshop yang bertema “Dakwah Kontemporer & Enterpreneurship”. Kuliah lapangan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa prodi Komunikasi Penyiaran Islam Semester 2 UIN Sunan Ampel Surabaya yang diadakan di area lokalisasi Dolly bertempat di Masjid At Taubah Jl. Kupang Gunung Timur VII B/141 Surabaya.



PERJALANAN GANG DOLLY
            Memang, saat mendengar nama Gang Dolly --yang terletak di wilayah kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Pesawahan, Surabaya-- disebut, asumsi orang seketika akan menyerngitkan dahi. Ada rasa bergidik dan segera mencibir jika tempat itu tak ubahnya sampah. Bagaimana tidak? Gang Dolly –yang konon dirintis mama Dolly sekitar tahun 1965 itu-- memang bukan tempat yang asing bagi orang Surabaya sebagai tempat maksiat. Di komplek itu, hidup para germo dan pelacur yang mengundang siapa saja untuk meneteskan air liur jika tak kuat iman.

Dolly atau Gang Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase.
Konon lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
            Gang Dolly ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der mart. Keturunan dari Dolly sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis. Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya. Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks berasal dari Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Surabaya, dan Kalimantan.
            Namun Gang Dolly kini berbenah menampakkan wujud barunya setelah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berhasil menutupnya pada Rabu 18 Juni 2014.
Pada malam terakhir bisnis prostitusi di Gang Dolly, etalase kaca yang biasa memajang para Pekerja Seks Komersial (PSK) berpakaian minim, terlihat kosong dan gelap. Para muncikari tak lagi sibuk bertransaksi dengan para tamu sambil memencet kalkulator.
Sementara, warga menutup rumah dan toko, khawatir kericuhan bakal terjadi. Suasana mencekam kala itu.
Pada saat bersamaan di Gedung Islamic Center Surabaya, yang jaraknya sekitar 1 km dari Dolly, sejumlah pejabat penting berkumpul, di antaranya Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Gubernur Jatim Soekarwo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Mereka secara resmi menutup operasional lokalisasi Gang Dolly.
            Lokalisasi Dolly yang tersebar di lima RW di wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, memang terbagi menjadi dua lokalisasi. Pertama, lokalisasi Gang Dolly --sebenarnya Jalan Kupang Gunung Timur I– serta deretan wisma yang terletak di sisi selatan Jalan Jarak.
Bisnis prostitusi tampaknya tak bisa hilang begitu saja di bekas lokalisasi Dolly yang secara resmi telah ditutup oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada 18 Juni 2014. Masih ada yang melakukannya dengan cara sembunyi-sembunyi, memanfaatkan berbagai hotel yang letaknya jauh dari Dolly atau kamar-kamar tertentu di beberapa rumah kost di wilayah tersebut.
Kawasan Dolly yang pernah disebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara dengan 1.449 PSK dan 313 mucikari itu memang telah berubah wajah. Jika dulu berbagai wisma, karaoke, atau salon berderet di Jalan Jarak, kini hanya tersisa bekas-bekasnya. Wisma atau salon berubah menjadi toko komersial seperti mini market, counter handphone dan pulsa, pangkas rambut, air isi ulang, bengkel motor dan aksesorinya atau warung kopi. Adapun Gang Dolly atau Jalan Kupang Gunung Timur I juga telah berubah wajah meski masih tersisa beberapa bangunan rumah dengan kaca etalase yang dulu dipergunakan para "Mbak-Mbak" menunggu para tamunya. Di ujung jalan Kupang Gunung Timur I, tepatnya rumah nomor 1A yang terdri dari tiga lantai, kini dijadikan usaha pangkas rambut “Abassy”. Dulu, tempat itu dikenal orang sebagai “Salon Ari”.
Buntut penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak memang berimbas pada harga sewa dan harga jual rumah di kawasan tersebut. Untuk harga rumah misalnya, bisa naik hingga tiga kali lipat. Jika dulu masih kawasan lokalisasi, rumah warga di berbagai gang Putat Jaya di Jarak dengan luas tanah sekitar 100 meter persegi sekitar Rp100 juta, kini melenting menjadi Rp300 juta hingga Rp350 juta.
Suasana malam di Dolly juga sudah berubah total. Jika dulu sekitar pukul 22.00, kehidupan malam mulai berdenyut cepat, kini justru mulai terlihat sepi layaknya perkampungan lain di Kota Buaya. Semakin larut, kawasan tersebut juga turut terlelap. Kecuali di beberapa sudut tempat warung kopi yang buka 24 jam, tempat para lelaki berkumpul untuk sekedar ngobrol melewatkan malam. Kehidupan malam yang sepi itu memang menyisakan duka bagi banyak warga yang dulu “menggantungkan” hidup dari kehidupan malam di Dolly. Dari total 15 RW di Kelurahan Putat Jaya, sebanyak lima RW menjadi tempat lokalisasi dengan total jumlah penduduk sekitar 10 ribu orang.
Saat masih menjadi lokalisasi, banyak warga yang membuka toko di rumah mereka untuk memenuhi kebutuhan para Mbak-Mbak dan tamu-tamunya. Mulai dari rokok, sabun, shampo, atau mie instan hingga beras. Begitu lokalisasi ditutup dan tak ada lagi denyut kehidupan malam, satu per satu toko milik warga pun ikut tutup. Kondisi inilah yang merupakan pekerjaan rumah besar bagi Walikota Risma dan jajarannya. Walikota Risma sendiri bukannya tak menyadari pentingnya memberi mata pencaharian bagi warga asli di bekas lokalisasi. Sejak lokalisasi ditutup, Risma menginstruksikan agar dibentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang bisa dilakukan oleh warga agar memiliki sumber mata pencaharian yang baru. Maka terbentuklah 13 UKM. Yakni pembuatan sepatu, tempe “Bang Jarwo”, batik “Putat Jaya”, konveksi, sablon, bandeng, manik-manik, samiler Samijaya (kerupuk singkong), minyak rambut, atau minuman. Batik Putat Jaya sendiri terdiri dari tiga kelompok, yakni Canting Surya, Albujabar dan Jarak Arum. Nama Dolly dipertahankan mengingat nama itu sudah terlanjur mengindonesia dan bahkan mendunia.Berbagai gang yang ada diberi tema sesuai keberadaan UKM di dalamnya. Sebut saja “Gang Samijali” untuk Gang Putat Jaya IV-A yang merupakan sentra pembuatan kerupuk singkong. Atau “Gang Remo”, nama tarian khas Surabaya, untuk Gang Putat Jaya III-A. Nama tersebut disematkan karena di dalamnya memang ada tempat latihan bagi generasi muda yang belajar tari Remo. Juga “Gang Batik” untuk Putat Jaya VIII-B. Risma sendiri mengaku bakal terus berupaya memberdayakan ekonomi di kawasan eks lokalisasi melalui berbagai macam pelatihan keterampilan. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebijakan yang diambil. Risma memahami bahwa dia harus membayar kebijakannya menutup lokalisasi Dolly dengan mencarikan berbagai sumber penghidupan baru bagi warga yang tinggal di bekas lokalisasi tersebut.
Penutupan lokalisasi Dolly ini dibantu oleh para elemen-elemen dari bapak Sunarto dan Ustadz KH Khoiron serta dibantu oleh Bapak Sunarto Sholahuddin. Yang dimana bapak Sunarto ini merupakan seorang dokter prostitusi yang memiliki ide untuk penutupan lokalisasi ini, lalu ustadz yang senantiasa memberi ceramah para WTS dan mucikari serta bapak Sholahuddin yang membatnu penutupan Dolly ini secara finansial. Di proses penutupan ini, ustadz Khoiron juga bertemu dengan seorang preman pimpinan lokalisasi yang sudah bertaubat hingga menemani ustad Khoiron dalam berjuang untuk menutup daerah lokalisasi Dolly ini. Mantan preman itu bernama Bapak H. Gatot Subiantoro. Elemen-elemen yang membantu dalam penutupan Dolly ini bernama FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya). Selain itu peran Ustadz Petruk pun amat luar biasa. Takmir Masjid yang besar di daerah prostitusi. Yakni ustadz Ngadimin yang sering disapa Pak Petruk berdakwah secara intens di Gang Dolly, boleh dikata bermula sejak menjabat sebagai ketua takmir masjid at-Taubah yang didirikan di tengah gemerlap lampu dan detak musik (diskotek) pada tahun 1995. Sejak dipilih sebagai takmir masjid itulah, ia dituntun untuk berdakwah secara ekstra hati-hati. Sebab, siapa pun tahu akan resiko dan "tantangan" yang akan dihadapi.   


Masjid At Taubah juga menjadi saksi perjuangan penutupas lokalisasi Dolly. Keberadaan masjid at-Taubah itu sendiri merupakan pengembangan dari musholla al-Huda. Karena animo masyarakat yang lumayan tinggi terhadap kehadiran sarana dakwah pada waktu itu, maka pada 17 Februari 1989 nama musholla al-Huda itu resmi "berganti nama" masjid at-Taubah. Semula, bangunan masjid itu berlantai satu dan baru tahun 1991 berlantai dua dan didirikan pula TPA at-Taubah. Seiring berjalannya waktu, masjid at-Taubah lambat laun berbenah.

Tapi, di mata pak Petruk, keadaan yang serba terbatas itu tak menyurutkan langkah berdakwah. Ia merangkul kalangan muda sebagai staf pengajar dan berupaya memanfaatkan sebidang bangunan di samping rumah untuk ruang TK. Tak berlebihan, dari kiprah dakwah pak Petruk itu, kini sejumlah siswa tetap bertahan untuk menimba ilmu meski berada di tengah-tengah tempat maksiat. Apalagi, perjalanan panjang keberadaan masjid at-Taubah di tengah lokalisasi Dolly itu direspon positif oleh masyarakat, tak terkecuali pula para pekerja malam. Bahkan beberapa kupu-kupu malam dan mucikari yang punya anak pun tak segan menitipkan putra-putri mereka untuk menimba ilmu agama dan mengaji di TPA at-Taubah.




“Kunci Kesuksesan adalah kejujuran” - H. Sunarto Sholahuddin (Owner PT. Berkah aneka laut & Bendahara umum Masjid Nurul Fattah Jl. Demak 319 Surabaya)


Kisah hidup Pak Sunarto mungkin bisa dijadikan inspirasi bagi banyak orang. Dia memulai kariernya sebagai pegawai restoran hingga bisa memiliki perusahaan perikanan laut berkualitas nasional dan internasional bernama, PT Berkah Aneka Laut.
Dalam mencapai kesuksesan, menurut Sunarto, memang tidak mudah dan harus melewati berbagai macam tantangan. Bagi Pak Sunarto, modal utama untuk merengkuh kesuksesan adalah kerja keras dan kejujuran. Sunarto percaya apabila seseorang sudah menanamkan kerja keras dan kejujuran dalam kehidupannya, kesuksesan pasti bisa diraih.
Di dalam berdagang, bapak Sunarto mengikuti jejak Rasulullah sewaktu masih berdagang dengan menerapkan prinsip-prinsip berdagang Rasulullah agar dapat memperoleh berkah, yaitu :
  1. Shidiq : Jujur.
  2. Fatonah : cerdas, kreatif dan inovatif.
  3. Tabligh : Komunikatif.
  4. Amanah : dapat dipercaya dan tanggung jawab.
Seperti halnya yang terjadi di Surabaya ini tepatnya disaat penutupan area lokalisasi Dolly Surabaya. Perusahaan milik bapak Shola ini memberikan bantuan berupa finansial dari penghasilan perusahaan beliau untuk membantu menutup lokalisasi Dolly ini serta menyuplai dana untuk mendirikan tempat usaha bagi para mantan WTS dan Mucikari agar bisa bekerja dengan pekerjaan yang baru dan halal tentunya.
“Dakwah di lokalisasi itu harus dilakukan secara jaringan atau dakwah integral, dakwah tidak sendiri tapi bersama-sama. Itu yang lebih optiomal.” – Dr. H. A. Sunarto (DOKTOR PROSTITUSI)
Konteks dakwah beliau adalah mengubah kemungkaran yang dimana beliau menggunakan teknik berdakwah dengan metode Integratif, Persuasif dan Solutif. Sebelum nya beliau hanya berinisiatif untuk berdakwah secara individu di daerah lokalisasi tetapi hasilnya tidak akan maksimal dan sangat membutuhkan waktu yang sangat lama apabila dilakukan seara individu. Sehingga beliau mengajak elemen-elemen masyarakat yang lain seperti kiai Khoiron Syuaib selaku ustad di daerah lokalisasi serta Prof. Ali Aziz selaku salah satu dosen universitas negeri islam di Surabaya yang sudah mahir dalam bidang berkdakwah.





KH Khoiron Syu’aib (Kiai Prostitusi)


Kiai Khoiron adalah anak dari pasangan Syu'aib bin Kia Asim dan Hj. Muntayyah binti Kiai Mu'assan. Kiai Khoiron bukanlah warga asli Dupak. Ia adalah seorang pendatang.

Kedua orangtuanya dulu tinggal di jalan Maspati Gang IV Surabaya, Jawa Timur. Di sana orangtuanya membuka usaha makanan. Karena hasilnya selalu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, orangtua Kiai Khoiron pindah Kelurahan Dupak, Bangunsari, Surabaya. Di tempat inilah Kiai Khoiron dibesarkan.

Orangtua Kiai Khoiron tak ingin anaknya tumbuh di tempat prostitusi. Karena itu, ia dikirim belajar agama di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Kemudian Kiai Khoirin melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel, Surabaya.Setelah mendapat banyak ilmu agama, Kiai Khoiron pulang kampung. Ia prihatin dengan kondisi kampungnya. Karena itu ia berdakwah di tempat lokalisasi meski awalnya sempat pesimis.

Berkat kegigihannya, dakwahnya mulai diterima kalangan PSK. Ia kemudian mendirikan sebuah Pondok Pesantren Roudlotul Khoir di Bangunsari sebagai pusat dakwah.

Seiring berjalannya waktu, Kiai Khoiron sampai dikenal dengan 'Kiainya Para WTS dan mucikari". Mendapat sebutan itu, Kiai Khoiron tidak mempersoalkannya.

"Kiprah dakwahnya terbukti lebih ampuh dan efektif dan bisa dijadikan contoh menangani prostitusi," kata Ketua IDIAL Jawa Timur, Sunarto beberapa waktu lalu.

Sunarto lantas menulis sepak terjang Kiai Khoiron dan membukukannya. Bukunya diberi judul "Kiai Prostitusi" , pendekatan Dakwah KH Muhammad Khoiron Syuaib di Lokalisasi Kota Surabaya.

“Kekayaan itu tidak ada habisnya, kemiskinan itu tidak ada habisnya. Tetapi umur itu pasti ada masa habisnya.” – H. Gatoto Subiantoro (Mantan Preman Dolly)
Selain itu terdapat pula seorang mantan preman yang amat berpengaruh di kawasan Dolly. Pak Gatot namanya, warga asli Surabaya ini pernah malang melintang di Gang Dolly sebagai preman penjaga lokalisasi. Sebagai preman, tak sulit bagi Gatot mengumpulkan uang banyak. Apalagi di lokalisasi Dolly, ia dikenal sebagai preman yang punya pengaruh besar. Namun kini, Gatot telah bertaubat dan meninggalkan dunia hitam.
Pak Gatot mendapat hidayah untuk bertaubat. Wasilah taubat ini datang dari seorang ulama bernama Khoiron Syu’aib, yang terkenal di Surabaya sebagai da’i spesialis daerah prostitusi.
“Saya ingat ketika itu Kiai Khoiron datang saat saya sedang mabuk, beliau datang tidak untuk menceramahai saya, tapi justru membawa sebungkus berkat (makanan),” ujar pak Gatot.
Pendekatan halus yang dilakukan Khoiron Syu’aib akhirnya membuat pak Gatot luluh. Perlahan tapi pasti pak Gatot mulai meninggalkan dunia maksiat.
Di akhir kalimat ini, bapak Gatot menyampaikan kepada mahasiswa UINSA pada acara workshop yang diselenggarakan pada hari Sabtu (13/04/2019), bahwa “Dakwah itu jangan hanya di satu tempat saja, jangan hanya kepada orang yang itu-itu saja. Tetapi berdakwah kepada orang yang disekitarmu itu juga perlu. Atau berdakwalah di tempat seperti lokalisasi ini karena masih banyak manusia yang membutuhkan tuntunan menuju jalan yang benar.”
Beberapa kesan saya saat mengikuti kuliah lapangan di kawasan Dolly :
1.      Bangga bisa bertemu dan mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari orang – orang hebat.
2.      Merasa terpanggil untuk terus terus berdakwah dimanapun kita berada.
3.      Kagum dengan perjuangan para pembicara dalam rangka penutupan tempat prostitusi yang sudah terkenal se asia tenggara.
4.      Yang dulu hanya sekedar tau dari media mengenai dolly, dengan menginjak langsung disni saya bisa mengetauhi lebih banyak tentang tempat ini.
5.      Metode kuliah yang tidak membosankan karena tidak melulu di dalam kelas.

Dari sini pun saya dapat mengambil pelajaran mengenai kesabaran dan sifat optimis dalam berdakwah. Untuk mendapatkan suatu hal yang besar tidak bisa kita dapat dengan instan, seperti halnya penutupan area lokalisasi Dolly. Perlu perjuangan dan juga meminta pertolongan kepada Allah SWT, perlu berdarah darah dahulu sebelum akhirnya mendapatkan hal yang kita inginkan.

Seperti kutipan dalam buku Bersiul di Tengah Badai karya Guru Besar kita tercinta, Prof. Dr. Moh. Ali Aziz “Optimislah dalam meraih cita – cita. Yakinlah bahwa Allah pasti, pasti dan pasti Maha Kuasa menolong kita. Terlebih lagi ketika kita ersujud panjang dalam shalat kita.”
           





Workshop Dakwah Kontemporer dan Enterpreneurship KPI UIN Sunan Ampel Surabaya 2019

            Sabtu, 12 April 2019 telah diadakan kuliah lapangan pada mata kuliah Ilmu Dakwah dengan mengadakan workshop yang bertem...