Sabtu,
12 April 2019 telah diadakan kuliah lapangan pada mata kuliah Ilmu Dakwah
dengan mengadakan workshop yang bertema “Dakwah Kontemporer &
Enterpreneurship”. Kuliah lapangan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa prodi
Komunikasi Penyiaran Islam Semester 2 UIN Sunan Ampel Surabaya yang diadakan di
area lokalisasi Dolly bertempat di Masjid At Taubah Jl. Kupang Gunung Timur VII
B/141 Surabaya.
PERJALANAN GANG
DOLLY
Memang,
saat mendengar nama Gang Dolly --yang terletak di wilayah kelurahan Putat Jaya,
Kecamatan Pesawahan, Surabaya-- disebut, asumsi orang seketika akan
menyerngitkan dahi. Ada rasa bergidik dan segera mencibir jika tempat itu tak
ubahnya sampah. Bagaimana tidak? Gang Dolly –yang konon dirintis mama Dolly
sekitar tahun 1965 itu-- memang bukan tempat yang asing bagi orang Surabaya
sebagai tempat maksiat. Di komplek itu, hidup para germo dan pelacur yang
mengundang siapa saja untuk meneteskan air liur jika tak kuat iman.
Dolly atau Gang Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur
"dipajang" di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase.
Konon
lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia
Tenggara lebih besar
dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk
memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Gang
Dolly ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan
keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly
van der mart. Keturunan dari Dolly sampai sekarang masih ada di
Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis. Kawasan Dolly berada di tengah
kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya.
Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya
bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir,
tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks berasal dari Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Surabaya, dan Kalimantan.
Namun
Gang Dolly kini berbenah menampakkan wujud barunya setelah Wali Kota Surabaya
Tri Rismaharini berhasil menutupnya pada Rabu 18 Juni 2014.
Pada malam terakhir bisnis prostitusi di Gang
Dolly, etalase kaca yang biasa memajang para Pekerja Seks Komersial (PSK)
berpakaian minim, terlihat kosong dan gelap. Para muncikari tak lagi sibuk
bertransaksi dengan para tamu sambil memencet kalkulator.
Sementara, warga menutup rumah dan toko, khawatir
kericuhan bakal terjadi. Suasana mencekam kala itu.
Pada saat bersamaan di Gedung Islamic Center
Surabaya, yang jaraknya sekitar 1 km dari Dolly, sejumlah pejabat penting
berkumpul, di antaranya Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Gubernur Jatim
Soekarwo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Mereka secara resmi menutup
operasional lokalisasi Gang Dolly.
Lokalisasi
Dolly yang tersebar di lima RW di wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan
Sawahan, memang terbagi menjadi dua lokalisasi. Pertama, lokalisasi Gang Dolly
--sebenarnya Jalan Kupang Gunung Timur I– serta deretan wisma yang terletak di
sisi selatan Jalan Jarak.
Bisnis
prostitusi tampaknya tak bisa hilang begitu saja di bekas lokalisasi Dolly yang
secara resmi telah ditutup oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada 18 Juni
2014. Masih ada yang melakukannya dengan cara sembunyi-sembunyi, memanfaatkan
berbagai hotel yang letaknya jauh dari Dolly atau kamar-kamar tertentu di
beberapa rumah kost di wilayah tersebut.
Kawasan Dolly yang pernah
disebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara dengan 1.449 PSK dan 313
mucikari itu memang telah berubah wajah. Jika dulu berbagai wisma, karaoke,
atau salon berderet di Jalan Jarak, kini hanya tersisa bekas-bekasnya. Wisma
atau salon berubah menjadi toko komersial seperti mini market, counter
handphone dan pulsa, pangkas rambut, air isi ulang, bengkel motor dan
aksesorinya atau warung kopi. Adapun Gang Dolly atau Jalan Kupang Gunung Timur
I juga telah berubah wajah meski masih tersisa beberapa bangunan rumah dengan
kaca etalase yang dulu dipergunakan para "Mbak-Mbak" menunggu para
tamunya. Di ujung jalan Kupang Gunung Timur I, tepatnya rumah nomor 1A yang
terdri dari tiga lantai, kini dijadikan usaha pangkas rambut “Abassy”. Dulu,
tempat itu dikenal orang sebagai “Salon Ari”.
Buntut penutupan lokalisasi
Dolly dan Jarak memang berimbas pada harga sewa dan harga jual rumah di kawasan
tersebut. Untuk harga rumah misalnya, bisa naik hingga tiga kali lipat. Jika
dulu masih kawasan lokalisasi, rumah warga di berbagai gang Putat Jaya di Jarak
dengan luas tanah sekitar 100 meter persegi sekitar Rp100 juta, kini melenting
menjadi Rp300 juta hingga Rp350 juta.
Suasana malam di Dolly juga
sudah berubah total. Jika dulu sekitar pukul 22.00, kehidupan malam mulai
berdenyut cepat, kini justru mulai terlihat sepi layaknya perkampungan lain di
Kota Buaya. Semakin larut, kawasan tersebut juga turut terlelap. Kecuali di
beberapa sudut tempat warung kopi yang buka 24 jam, tempat para lelaki
berkumpul untuk sekedar ngobrol melewatkan malam. Kehidupan malam yang sepi itu
memang menyisakan duka bagi banyak warga yang dulu “menggantungkan” hidup dari
kehidupan malam di Dolly. Dari total 15 RW di Kelurahan Putat Jaya, sebanyak
lima RW menjadi tempat lokalisasi dengan total jumlah penduduk sekitar 10 ribu
orang.
Saat masih menjadi lokalisasi, banyak warga yang membuka toko di rumah
mereka untuk memenuhi kebutuhan para Mbak-Mbak dan tamu-tamunya. Mulai dari
rokok, sabun, shampo, atau mie instan hingga beras. Begitu lokalisasi ditutup
dan tak ada lagi denyut kehidupan malam, satu per satu toko milik warga pun
ikut tutup. Kondisi inilah yang merupakan pekerjaan rumah besar bagi Walikota Risma
dan jajarannya. Walikota Risma sendiri bukannya tak menyadari pentingnya
memberi mata pencaharian bagi warga asli di bekas lokalisasi. Sejak lokalisasi
ditutup, Risma menginstruksikan agar dibentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang
bisa dilakukan oleh warga agar memiliki sumber mata pencaharian yang baru. Maka
terbentuklah 13 UKM. Yakni pembuatan sepatu, tempe “Bang Jarwo”, batik “Putat
Jaya”, konveksi, sablon, bandeng, manik-manik, samiler Samijaya (kerupuk
singkong), minyak rambut, atau minuman. Batik Putat Jaya sendiri terdiri dari
tiga kelompok, yakni Canting Surya, Albujabar dan Jarak Arum. Nama Dolly
dipertahankan mengingat nama itu sudah terlanjur mengindonesia dan bahkan
mendunia.Berbagai gang yang ada diberi tema sesuai keberadaan UKM di dalamnya.
Sebut saja “Gang Samijali” untuk Gang Putat Jaya IV-A yang merupakan sentra
pembuatan kerupuk singkong. Atau “Gang Remo”, nama tarian khas Surabaya, untuk
Gang Putat Jaya III-A. Nama tersebut disematkan karena di dalamnya memang ada
tempat latihan bagi generasi muda yang belajar tari Remo. Juga “Gang Batik”
untuk Putat Jaya VIII-B. Risma sendiri mengaku bakal terus berupaya
memberdayakan ekonomi di kawasan eks lokalisasi melalui berbagai macam
pelatihan keterampilan. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebijakan
yang diambil. Risma memahami bahwa dia harus membayar kebijakannya menutup
lokalisasi Dolly dengan mencarikan berbagai sumber penghidupan baru bagi warga
yang tinggal di bekas lokalisasi tersebut.
Penutupan
lokalisasi Dolly ini dibantu oleh para elemen-elemen dari bapak Sunarto dan
Ustadz KH Khoiron serta dibantu oleh Bapak Sunarto Sholahuddin. Yang dimana
bapak Sunarto ini merupakan seorang dokter prostitusi yang memiliki ide untuk
penutupan lokalisasi ini, lalu ustadz yang senantiasa memberi ceramah para WTS
dan mucikari serta bapak Sholahuddin yang membatnu penutupan Dolly ini secara
finansial. Di proses penutupan ini, ustadz Khoiron juga bertemu dengan seorang
preman pimpinan lokalisasi yang sudah bertaubat hingga menemani ustad Khoiron
dalam berjuang untuk menutup daerah lokalisasi Dolly ini. Mantan preman itu
bernama Bapak H. Gatot Subiantoro. Elemen-elemen yang membantu dalam penutupan
Dolly ini bernama FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya). Selain
itu peran Ustadz Petruk pun amat luar biasa. Takmir Masjid yang besar di daerah
prostitusi. Yakni ustadz Ngadimin yang sering disapa Pak Petruk berdakwah
secara intens di Gang Dolly, boleh dikata bermula sejak menjabat sebagai ketua
takmir masjid at-Taubah yang didirikan di tengah gemerlap lampu dan detak musik
(diskotek) pada tahun 1995. Sejak dipilih sebagai takmir masjid itulah, ia
dituntun untuk berdakwah secara ekstra hati-hati. Sebab, siapa pun tahu akan
resiko dan "tantangan" yang akan dihadapi.
Masjid At Taubah juga menjadi saksi perjuangan penutupas lokalisasi Dolly. Keberadaan masjid at-Taubah itu sendiri merupakan pengembangan dari musholla al-Huda. Karena animo masyarakat yang lumayan tinggi terhadap kehadiran sarana dakwah pada waktu itu, maka pada 17 Februari 1989 nama musholla al-Huda itu resmi "berganti nama" masjid at-Taubah. Semula, bangunan masjid itu berlantai satu dan baru tahun 1991 berlantai dua dan didirikan pula TPA at-Taubah. Seiring berjalannya waktu, masjid at-Taubah lambat laun berbenah.
Tapi, di mata pak Petruk, keadaan yang serba terbatas itu tak menyurutkan langkah berdakwah. Ia merangkul kalangan muda sebagai staf pengajar dan berupaya memanfaatkan sebidang bangunan di samping rumah untuk ruang TK. Tak berlebihan, dari kiprah dakwah pak Petruk itu, kini sejumlah siswa tetap bertahan untuk menimba ilmu meski berada di tengah-tengah tempat maksiat. Apalagi, perjalanan panjang keberadaan masjid at-Taubah di tengah lokalisasi Dolly itu direspon positif oleh masyarakat, tak terkecuali pula para pekerja malam. Bahkan beberapa kupu-kupu malam dan mucikari yang punya anak pun tak segan menitipkan putra-putri mereka untuk menimba ilmu agama dan mengaji di TPA at-Taubah.
“Kunci
Kesuksesan adalah kejujuran” -
H. Sunarto Sholahuddin (Owner
PT. Berkah aneka laut & Bendahara umum Masjid Nurul Fattah Jl. Demak 319
Surabaya)
Kisah hidup Pak Sunarto mungkin bisa dijadikan inspirasi
bagi banyak orang. Dia memulai kariernya sebagai pegawai restoran hingga bisa
memiliki perusahaan perikanan laut berkualitas nasional dan internasional
bernama, PT Berkah Aneka Laut.
Dalam mencapai kesuksesan, menurut Sunarto,
memang tidak mudah dan harus melewati berbagai macam tantangan. Bagi Pak Sunarto,
modal utama untuk merengkuh kesuksesan adalah kerja keras dan kejujuran.
Sunarto percaya apabila seseorang sudah menanamkan kerja keras dan kejujuran
dalam kehidupannya, kesuksesan pasti bisa diraih.
Di dalam berdagang, bapak Sunarto mengikuti jejak
Rasulullah sewaktu masih berdagang dengan menerapkan prinsip-prinsip berdagang
Rasulullah agar dapat memperoleh berkah, yaitu :
- Shidiq : Jujur.
- Fatonah : cerdas, kreatif dan inovatif.
- Tabligh : Komunikatif.
- Amanah : dapat dipercaya dan tanggung jawab.
Seperti halnya
yang terjadi di Surabaya ini tepatnya disaat penutupan area lokalisasi Dolly
Surabaya. Perusahaan milik bapak Shola ini memberikan bantuan berupa finansial
dari penghasilan perusahaan beliau untuk membantu menutup lokalisasi Dolly ini
serta menyuplai dana untuk mendirikan tempat usaha bagi para mantan WTS dan
Mucikari agar bisa bekerja dengan pekerjaan yang baru dan halal tentunya.
“Dakwah di
lokalisasi itu harus dilakukan secara jaringan atau dakwah integral, dakwah
tidak sendiri tapi bersama-sama. Itu yang lebih optiomal.” –
Dr. H. A. Sunarto (DOKTOR PROSTITUSI)
Konteks dakwah
beliau adalah mengubah kemungkaran
yang dimana beliau menggunakan teknik berdakwah dengan metode Integratif, Persuasif dan Solutif. Sebelum
nya beliau hanya berinisiatif untuk berdakwah secara individu di daerah
lokalisasi tetapi hasilnya tidak akan maksimal dan sangat membutuhkan waktu
yang sangat lama apabila dilakukan seara individu. Sehingga beliau mengajak
elemen-elemen masyarakat yang lain seperti kiai Khoiron Syuaib selaku ustad di
daerah lokalisasi serta Prof. Ali Aziz selaku salah satu dosen universitas
negeri islam di Surabaya yang sudah mahir dalam bidang berkdakwah.
KH
Khoiron Syu’aib (Kiai Prostitusi)
Kiai Khoiron adalah anak dari pasangan Syu'aib bin Kia Asim dan Hj. Muntayyah binti Kiai Mu'assan. Kiai Khoiron bukanlah warga asli Dupak. Ia adalah seorang pendatang.
Kedua orangtuanya dulu tinggal di jalan Maspati Gang IV Surabaya, Jawa Timur. Di sana orangtuanya membuka usaha makanan. Karena hasilnya selalu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, orangtua Kiai Khoiron pindah Kelurahan Dupak, Bangunsari, Surabaya. Di tempat inilah Kiai Khoiron dibesarkan.
Orangtua Kiai Khoiron tak ingin anaknya tumbuh di tempat prostitusi. Karena itu, ia dikirim belajar agama di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Kemudian Kiai Khoirin melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel, Surabaya.Setelah mendapat banyak ilmu agama, Kiai Khoiron pulang kampung. Ia prihatin dengan kondisi kampungnya. Karena itu ia berdakwah di tempat lokalisasi meski awalnya sempat pesimis.
Berkat kegigihannya, dakwahnya mulai diterima kalangan PSK. Ia kemudian mendirikan sebuah Pondok Pesantren Roudlotul Khoir di Bangunsari sebagai pusat dakwah.
Seiring berjalannya waktu, Kiai Khoiron sampai dikenal dengan 'Kiainya Para WTS dan mucikari". Mendapat sebutan itu, Kiai Khoiron tidak mempersoalkannya.
"Kiprah dakwahnya terbukti lebih ampuh dan efektif dan bisa dijadikan contoh menangani prostitusi," kata Ketua IDIAL Jawa Timur, Sunarto beberapa waktu lalu.
Sunarto lantas menulis sepak terjang Kiai Khoiron dan membukukannya. Bukunya diberi judul "Kiai Prostitusi" , pendekatan Dakwah KH Muhammad Khoiron Syuaib di Lokalisasi Kota Surabaya.
“Kekayaan
itu tidak ada habisnya, kemiskinan itu tidak ada habisnya. Tetapi umur itu
pasti ada masa habisnya.” – H. Gatoto Subiantoro (Mantan Preman Dolly)
Selain itu terdapat pula
seorang mantan preman yang amat berpengaruh di kawasan Dolly. Pak Gatot
namanya, warga asli Surabaya ini pernah malang melintang di
Gang Dolly sebagai preman penjaga lokalisasi. Sebagai preman, tak sulit
bagi Gatot mengumpulkan uang banyak. Apalagi di lokalisasi Dolly, ia dikenal
sebagai preman yang punya pengaruh besar. Namun kini, Gatot telah bertaubat dan
meninggalkan dunia hitam.
Pak Gatot mendapat hidayah untuk bertaubat.
Wasilah taubat ini datang dari seorang ulama bernama Khoiron Syu’aib, yang
terkenal di Surabaya sebagai da’i spesialis daerah prostitusi.
“Saya ingat ketika itu Kiai Khoiron datang saat
saya sedang mabuk, beliau datang tidak untuk menceramahai saya, tapi justru
membawa sebungkus berkat (makanan),” ujar pak Gatot.
Pendekatan halus yang dilakukan Khoiron Syu’aib
akhirnya membuat pak Gatot luluh. Perlahan tapi pasti pak Gatot mulai
meninggalkan dunia maksiat.
Di akhir kalimat ini, bapak Gatot menyampaikan kepada mahasiswa UINSA pada
acara workshop yang diselenggarakan pada hari Sabtu (13/04/2019), bahwa “Dakwah
itu jangan hanya di satu tempat saja, jangan hanya kepada orang yang itu-itu
saja. Tetapi berdakwah kepada orang yang disekitarmu itu juga perlu. Atau
berdakwalah di tempat seperti lokalisasi ini karena masih banyak manusia yang
membutuhkan tuntunan menuju jalan yang benar.”Beberapa kesan saya saat mengikuti kuliah lapangan di kawasan Dolly :
1.
Bangga bisa bertemu dan
mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari orang – orang hebat.
2.
Merasa terpanggil untuk terus terus
berdakwah dimanapun kita berada.
3.
Kagum dengan perjuangan para pembicara
dalam rangka penutupan tempat prostitusi yang sudah terkenal se asia tenggara.
4.
Yang dulu hanya sekedar tau dari
media mengenai dolly, dengan menginjak langsung disni saya bisa mengetauhi
lebih banyak tentang tempat ini.
5.
Metode kuliah yang tidak
membosankan karena tidak melulu di dalam kelas.
Seperti kutipan dalam buku Bersiul di Tengah Badai karya Guru Besar kita tercinta, Prof. Dr. Moh. Ali Aziz “Optimislah dalam meraih cita – cita. Yakinlah bahwa Allah pasti, pasti dan pasti Maha Kuasa menolong kita. Terlebih lagi ketika kita ersujud panjang dalam shalat kita.”




